Bisnis Sirsak yang Menggiurkan

Sirsak adalah buah yang sangat digemari oleh banyak orang, karena sirsak mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.

Siapa yang tak kenal sirsak. Buah berasa manis dengan kulit berduri menyerupai durian ini sangat menguntungkan jika dikembangkan secara serius. Apalagi permintaan pasar sekarang ini cukup tinggi. Dengan lahan seluas satu hektare, petani bisa mendapatkan untung lebih hingga jutaan rupiah. Seperti yang diungkapkan Kepala Unit Pelaksana Tugas Balai Benih Induk (UPT BBI) Arse, Sipirok, Bahrudin. Menurutnya, harga buah sirsak ratu relatif lebih tinggi dibandingkan sirsak lainnya.

Jika sirsak biasa harganya berkisar antara Rp 10.000 – Rp 15.000 per kg, sirsak ratu bisa bermain di harga mulai dari Rp 25.000 – Rp 30.000 per kg.

Hal tersebut yang kemudian mendasari ide untuk membudidayakan sirsak ratu untuk kemudian mengembangkannya dengan menggunakan label sebagai menjamin kualitas benih.

Pihaknya kemudian mendatangkan benih sirsak ratu dari Sumatera Barat (Sumbar). Di lahan seluas 25 hektare, UPT BBI Arse, yang berada di Desa Pagar Tulason, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan ini, membudidayakan berbagai jenis buah.

Pertama, untuk koleksi, kemudian jika sudah mampu berbuah secara maksimal, akan dilakukan pembibitan. “Ya, karena kita sudah sangat tahu bahwa sirsak ratu adalah jenis varietas unggul dan sekarang ini kita baru proses mengoleksinya. Kalau sudah bisa berbuah banyak, kita akan membuat benihnya,” kata Bahrudin kepada MedanBisnis, Jumat (7/12) di Medan.
Disebut sebagai sirsak ratu lantaran sirsak ini memiliki keunggulan lebih banyak daripada sirsak biasa yang mudah dijumpai di pasaran. Keunggulan sirsak ratu terutama pada rasa yang lebih manis, tidak berserat sebagaimana sirsak lainnya. Selain itu, dari segi ukuran, sirsak ratu lebih besar.

Dari tiap butirnya, bisa mencapai 3 kg dengan ukuran panjang hingga 50 centimeter dan durinya pun tidak sebanyak sirsak biasa. Dengan keunggulan tersebut, wajar jika permintaan sirsak ratu di pasaran cukup banyak. Namun demikian, belum ada petani di Sumut yang bisa memenuhi permintaan tersebut. “Ya, kalaupun ada sirsak ratu, itu didatangkan dari Jawa,” ungkapnya.

Sebagai tanaman koleksi di UPT BBI Arse, pihaknya saat ini tengah mengembangkan sebanyak 40 pokok. Hingga saat ini, tanaman tersebut telah memasuki usia 2 tahun dan sedang belajar berbuah.

Meskipun di lahan 25 hektare, namun baru 4 rante yang dijadikan lahan pertanaman sirsak ratu. “Di masa mendatang akan menambah luasan tanamnya dengan melakukan pembenihan dalam jumlah yang lebih banyak. Dilihat dari prospeknya, kita yakin bisa membudidayaikan sirsak ratu dengan baik,” ungkapnya.

Menurutnya, jika saja petani mau menanam sirsak ratu, tentu saja akan bisa mendapatkan keuntungan karena faktor harga yang bersaing dan permintaan banyak. Tanaman sirsak ratu merupakan jenis tanaman yang bisa dipanen sebanyak 3 kali dengan sekali panen per pokok bisa menghasilkan minimal 50 kg.

Dengan demikian, bisa dihitung sekali panen, dengan harga Rp 25.000 per kg, petani bisa mengantongi Rp 3,75 juta. Semakin banyak pokok yang ditanam, semakin besar pula keuntungan yang didapat. Apalagi, permintaan sirsak di pasaran selalu tinggi.

Tentu saja, itu menjadi peluang besar bagi petani lantaran dari sisi produksi, tanaman ini sudah mulai bisa menghasilkan buah pada usia 2,5 – 3 tahun. Jadi, jika petani mau membudidayakannya baik secara kecil misalnya dengan memanfaatkan pekarangan, sudah bisa menguntungkan.

“Hingga saat ini banyak masyarakat kita yang enggan berinvestasi pada tanaman buah, padahal prospek bisnisnya sangat besar. Ini tidak pernah ada matinya karena selalu dicari masyarakat,” ungkapnya.

Dikatakannya, sejak mula didirikan pada 1980 an yang lalu, UPT BBI Arse memang difungsikan untuk menjadi sumber penyedia benih tanaman buah untuk wilayah pantai barat. Wilayah pantai barat, menurutnya sangat potensial karena faktor kesuburan tanah dan iklim yang mendukung.

Di UPT BBI Arse, juga memiliki 1 unit lagi yang khusus menangani berbagai jenis jeruk di Desa Sigordang, Simpang Mandala Kecamatan Saipar Dolok Hole, Tapanuli Selatan dengan luas mencapai 12 hektare. Di tempat ini, dibudidayakan berbagai jenis jeruk di antaranya jeruk keprok, jeruk maga, beras sitepu, siam madu, dan banyak lagi. Di lokasi ini juga terdapat lebih dari 30.000 batang bibit jeruk yang siap jual.

Pengembangan sirsak ratu di UPT BBI Arse juga tidak terlepas dari dukungan Kepala Dinas Pertanian Sumut, M Roem yang meminta agar pembudidayaan harus dilakukan dengan cara seksama sehingga masyarakat bisa mengetahui keunggulan sirsak ratu.

Selain itu, Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul Pasaribu dan wakilnya Aldin Rafolo Siregar kerapkali datang ke UPT BBI Arse untuk melihat perkembangan budidaya buah-buahan terbaik di Sumut.

“Tapanuli Selatan memiliki potensi kawasan yang cukup luas untuk pengembangan kebun buah sirsak ratu. Begitupun kondisi iklim dan kesuburan tanahnya sangat memungkinkan sirsak ratu tumbuh secara maksimal. Jadi, kalau petani mau mengembangkannya, ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” tambahnya.

 

 

sumber artikel: http://www.daunsirsakmurni.com/