Gurihnya Bisnis Makanan Ringan

Gurihnya Bisnis Makanan Ringan

 

Kali ini saya akan mengangkat sebuah posting tentang bisnis makanan ringan , karena menurut saya info ini sangat cocok bagi seorang pemula wirausahawan. Yuk biar gak lama-lama, mari kita simak info berikut ini. .

Bicara soal makanan atau kuliner, seolah melekat pada citra Kota Bandung yang dicap sebagai salah satu surga kuliner di Indonesia. Beragam makanan dengan variasi rasa, menggugah orang untuk terus berburu makanan asal kota kembang tersebut.

Hal tersebut yang menjadikan bisnis makanan asal Kota Bandung tidak pernah mati, bahkan cenderung terus tumbuh. Bisnis kuliner juga mencakup makanan ringan. Industri makanan ringan Kota Bandung saling berlomba memberikan yang unik, menarik, sehingga mampu menarik konsumen.

Hampir setahun terakhir, booming makanan ringan asal Bandung seperti Maicih, Keripik Setan, Kahurung, dan lainnya. Tidak sulit menemukan makanan-makanan tersebut, selain permintaan konsumen yang tinggi, strategi marketingnya pun cukup jempolan. Hingga makanan tersebut ekspansi ke luar Kota Bandung.

Di Bandung sendiri, hampir seluruh tempat makan ataupun factory outlet (FO) menyediakan camilan Bandung sebagai pelengkap buah tangan para wisatawan yang mampir untuk berbelanja fashion. Menjual makanan ringan memang menguntungkan. Itulah yang diungkapkan Ani (55), pemilik distributor Camilan Toko Senang, di Jalan Astana Anyar, Kota Bandung. Setidaknya, hampir 20 tahun Ani menggeluti usahanya itu.

“Ya sejak Bandung mulai dikenal dengan ragam tempat wisatanya usaha ini memang mulai menggeliat. Kira-kira mulai berdirinya terminal Leuwi Panjang atau awal 1990-an,” ujarnya kepada merdeka.com di Bandung, Rabu (6/6).

Dia mengakui, permintaan semakin tak terbendung sejalan dengan semakin terkenalnya Bandung sebagai surga makanan. Hampir seluruh pedagang di wilayah Bandung dan Jakarta memesan makanan ringan dari toko miliknya. “Mereka mengambil dan kemudian untuk dijual kembali dengan kemasan baru,” jelasnya.

Dia menjual camilan kiloan dengan harga beragam mulai Rp 20.000, Rp 30.000, hingga Rp 100.000 untuk satu rasa.  Berbagai rasa camilan dibeli, kemudian dipaketkan menjadi serba Rp 2.000.Â

Hasilnya sangat manis. Dalam satu hari puluhan bahkan ratusan kilogram makanan ringan terjual habis. Salah satu keunggulan dari bisnis makanan Bandung adalah inovasi-inovasi produsen yang tidak berhenti untuk menyuguhkan makanan dengan cita rasa yang menggugah selera konsumen. “Ya seperti singkong, kalau cuma singkong saja orang akan bosan makannya harus ada inovasi,” paparnya.

Tidak hanya itu, seperti halnya bisnis lainnya, maju tidaknya bisnis makanan tetap harus memperhatikan pasar. Saat ini, pasar sedang menggemari makanan dengan rasa pedas. Dengan membaca selera pasar yang dipadukan dengan inovasi, menjadikan bisnis makanan semakin cerah.

Dia mengakui bahwa perkembangan usaha makanan tidak pernah mati jika bisa menjaga kualitas yang dijualnya. Pengalaman memang berbicara. Bisnis camilan yang saat ini dijalankan merupakan hasil warisan orang tuanya. “Kita melihat camilan usaha yang prospektif. Hasilnya seperti sekarang ini,” ucapnya.

Tingginya permintaan akan makanan ringan, tentu mendorong omset dan keuntungan yang besar. Saat-saat seperti ini, mengelola bisnis makanan ringan termasuk aman dan tak perlu modal yang sangat besar. Hal itulah yang dinikmati pelaku bisnis camilan kelas kakap yang sudah merasakan renyahnya bisnis ini.

sumber artikel: http://www.merdeka.com

Your email address will not be published. Required fields are marked *